Senin, 05 Maret 2012

Peci Hitam Tukang Bangunan


Malu mungkin kata yang pas untuk menggambarkan perasaan siang hari tadi. Melihat seorang bapak tukang bangunan yang sudah beberapa minggu terakhir ini mengerjakan pembangunan rumah kos yang berada tepat didepan tetangga sebelah kanan kos-kosan saya.

Siang tadi ketika akan bersiap berangkat ke kampus lebih tapatnya ketika mengunci pintu pagar kos-kosan terlihat seorang bapak tukang bangunan paruh baya dengan wajah segar dan peci hitam di atas kepala yang ditumbuhi rambut yang sudah mulai beruban berjalan melintasi sepeda motor saya dengan senyum mengembang di wajah menyapa. entah mengapa perasaan malu bercampur penyesalan itu muncul secara tiba-tiba dan saya pun menyadarinya. Jujur sudah beberapa hari ini sholat saya kacau. tidak perlu saya jelaskan bagaimana "kacau"nya sholat saya pada saat itu.


Sejenak saya terdiam di atas motor siang itu. Tukang Bangunan paruh baya tersebut luar biasa hebat. di usianya yang terlihat hampir setengan abad, beliau memeras keringat dari pagi sampai sore hari demi memenuhi kebutuhan anak istrinya di rumah. Beliau lebih memilih bekerja keras membanting tulang dari pada hanya menadahkan tangan mengandalkan belas kasihan orang. Dan yang lebih membuat diri saya pribadi luar biasa malu adalah bapak tersebut masih dapat menyempatkan waktunya untuk melaksanakan sholat dhuhur berjama'ah di masjid. Sedangkan saya yang notabennya adalah hanya seorang mahasiswa yang memiliki waktu luang lebih banyak malah hanya membuang kesempatan yang lapang tersebut dengan sia-sia. Menjadikan kesibukan sebagai alasan tanpa kompromi yang sewenang-wenang. Mungkin hari ini, peci hitam tukang bangunan tersebut yang menjadi pengingat ibadah saya. Semoga Allah tetap selalu mengingatkan saya secara pribadi dan kita semua agar tetap berada di jalan kebenaran, Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar